Rabu, 09 Mei 2012

INTERMEZO Part 2


INTERMEZO
Main cast::
Lee Min Ho
Goo Hye Sun
EunHyuk
Joong Ill Woo
Kim Beom
Moon Geun Yeong
Rate :: Other tapi (RBO) ^^
Length: ----
Genre: Drama, Fantasi, Romance, Komedi.
Authour:: leedine aka dinie isnaeni 

 
Part 2
Hari ini Kim Beom, Hyuk, Min ho, dan Ill woo. Sibuk bersiap, membereskan pakaian, dan perlengkapan liburan mereka. Min ho yang satu kamar dengan Kim Beom sedang kerepotan mencari saputangan kesayangannya. Dia tak bisa pergi jika saputangan itu sampai hilang. 

“Min ho, ayo cepat! Hyuk sudah menuggu di luar.” Seru Beom sambil menggendong ranselnya.

 “Sebentar aku masih mencari saputanganku.” Ujarnya sambil sibuk mengobrak-abrik laci hingga lemari bahka,  lemari Beom kena juga.

“Ya!! apa yang kau lakukan? Jangan menyentuh lemariku!” Beom yang panik langsung menghalangi Min ho, dan berdiri dengan tangan terlentang. Tubuhnya benar-benar berhasil menutupi pintu lemarinya.

“Minggir sebentar! Aku ingin melihatnya, barangkali masuk kelemarimu.” Dia berusaha menyingkirkan Beom. 

“Bagaimana bisa masuk kelemariku? Kau yang selalu membawanya. Untuk apa aku menyimpan jimat bau itu?” Ungkapnya kesal karena Min ho terus saja memaksa.

“Mwo?? Mwoyeo?” Min ho seolah tak percaya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Beom yang pendiam dan tak banyak bicara.

“Apa kau sedang memarahiku? Atau kau sedang menghinaku?” lanjutnya.

Melihat ekspresi wajah Min ho yang berubah total saat dia berkata demikian, membuat Beom menjadi merasa bersalah. Dia menurunkan tanganya , “Aniya.. Min ho. Aku tidak bermaksud seperti itu.”

“Sudahlah. Kau tak tahu kenapa aku sangat menyanyagi saputangan itu kan? Jadi kau tidak perlu merasa bersalah. Pergilah duluan, aku akan menyusul nanti. Berikan alamatnya jika kau sudah sampai.” Min ho pergi dari hadapan Beom dan melanjutkan pencariannya.

“Min ho-ya… apa aku terlalu kasar padamu? Aku minta maaf.” Ujarnya dengan suara sedang dengan leher memanjang seolah ingin meraih pendengaran Min ho yang mulai berjalan menjauh. 


Kini Min ho berjalan menuju ruang tamu dan dilanjutkan ke dapur.
“Kau dan siapapun mungkin akan menganggapku gila. Karena sapu tangan yang kalian sebut jimat bau itu. Jika bagi kalian itu hanya jimat bau, bagiku lebih.” Wajahnya berubah sendu dengan mata berkaca-kaca.
Kini dia teringat akan kenangan dibalik sapu tangan ‘jimat bau’  berwarna merah marun dengan motif bungan di sudutnya.

*

Saat kecil Min ho berlari dengan cepat dan berhasil menjadi juara pertama dalam perlombaan tahunan sekolahnya. Dia sangat pintar matematika juga olahraga. Kakinya yang panjang membuat dia mudah melangkah dengan cepat.
Saat musim panas di tahun ke empat saat dia duduk di sekolah dasar. Sang ibu dengan setia dan bersemangat duduk diantara kursi penonton yang disediakan sekolah. Tangannya tak henti mengepal dan berkata. “Min ho ayo cepat lari!! Lebih cepat!!” dia terlihat sangat cantik dengan rambut panjang yang di ikat dengan jepitan ke belakang.
Dengan sekuat tenanga dia berlari lebih cepat. Yang ada dipikirannya adalah aku harus menang aku harus menang. Matanya terpejam sesaat, hingga dia tak menyadari jika sebuah batu cukup besar terinjak olehnya hingga tubuhnnya tidak seimbangan dan Min ho terjatuh ke samping. Tangan kanannya mendarat tidak sempurna hingga membuat terluka. Tulangnya keluar dan membuat darah itu mengalir banyak. Ibunya tercengang saat melihat putranya terkapar kesakitan. Dia pun berlari dengan wajah sangat panik.
Setelah kejadian itu Min ho tak bisa menggunakan tangan kanannya selama dua bulan. Sapu tangan merah “Jimat bau” itu lah yang mengikat tangan Min ho hingga ke rumah sakit. Itu adalah sapu tangan kesayangan ibunya. Min ho sempat enggan memakai sapu tangan itu, tapi ibu tak menggubrisnya. Dia hanya berkata. “Tanganmu jauh lebih berharga. Jika sapu tangan ini bisa menjagamu,  kelak kau harus bisa menjaganya juga. Jadi jangan khawatirkan itu.” Min ho pun akhirnya turut pada ibunya.

*

Karena itulah min ho sangat menyanyangi jimat bau itu. Bahkan dia enggan mencucinya dengan alasan takut hilang.
Sudah cukup lama mencari tapi tetap tidak ketemu. Hyuk menghampiri Min ho yang sedang duduk di belakang sofa. Dia menangis, sambil menundukan kepalanya.
Hyuk duduk di dekat min ho dan dia meraih kepala min ho dan mendekapnya.

“Kenapa aku begitu bodoh. Menjaga sapu tangan saja aku tidak bisa.” Ungkapnya dengan suara lirih.

“Tenanglah! Kau pasti akan menemukannya.”

“Apa kau juga berpikir aku gila? Dan keterlaluan? Hanya karena saputangan?” tanya min ho.

“Ani… kau tidak keterlaluan sama sekali. Tidak ada kata keterlaluan untuk hal yang kau sayangi. Kau berhak marah dan sedih saat kau kehilangan hal yang kau sayangi. Saat kau tidak merasakan rasa sedih sedikit pun, itu malah terlihat gila.”

“Apa kau mengerti seperti apa?”

“Aku mengerti. Karena aku mengalaminya. Jangan begini! Bukankah kau seorang pria? Ayo kita cari sampai dapat kemudian kita pergi berlibur.” Seru Hyuk setelah dia melepaskan pelukannya. Dan kemudian menepuk pundak Min ho.

Setiap sudut telah terjamah oleh mereka, hingga hyuk sampai di dapur. Tepatnya dekat lemari es, dia melihat sesuatu yang aneh di sana. Dengan cepat tangannya meraih benda yang tergeletak di pinggir lemari es.

“Ya… Min ho… Ya…” Hyuk berteriak kegirangan.

Min ho berlari menghampiri Hyuk.

“Ya?? ada apa?”

“Lihat ini!” Mata Min ho langsung membulat bersinar. Dengan gesit dia mengambil si jimat bau yang sudah bersarang lama dekat lemari es.

“Hyuk.. gomapta… nomu gomapta..” Min ho memeluk, mencium, bahkan dia menaikan sapu tangan itu hingga terlihat dari bawah.

“Ah… ne.” Ungkap Hyuk singkat. Hyuk juga terlihat sangat bahagia melihat Min ho kembali ceria setelah si jimat bau kembali.

“Oh ya… Hyuk.. ayo kita pergi sekarang juga! bukankah Beom dan ill woo sedang menunggu kita?” tanyanya antusias.

“Ah… ya benar.. mereka sedang menunggu di bawah.”

“Ah kau duluan ke bawah. Aku mau ngambil tas dulu.”

“Baiklah… :) aku tunggu di mobil ya.”

***
Butuh satu setengah jam untuk sampai ke tempat penginapan paman Hyuk. Saat mereka sampai dan keluar dari mobil. Ill wo, Beom, dan Min ho sungguh tak percaya jika paman Hyuk kaya raya.

“Kenapa kau selalu berlagak seperti orang tidak mampu? Lihat! Bahkan kau punya paman dengan penginapan luar biasa.” Ungkap Ill woo.
“Aku seperti berada di antara dua zaman. Joseon dan zaman modern.” Beom kagum melihat penginapan yang luar biasa cantik, unik, dan menenangkan ini.

“Ah.. yang kaya paman ku bukan aku. Mengapa aku harus berlagak kaya raya.” Jawab Hyuk enteng.

“Ah ya Hyuk kita tak perlu mengeluarkan uang kan? Aku benar-benar sedang krisis uang. Ayahku sedang menghukumku karena tabrakan mobil kemarin.” Keluh Min ho dengan muka lesu.

“Ya ya ya ya… tenang kawan-kawan.. tidak ada uang untuk menginap kita akan menginap gratisssss.” Jelas Hyuk, dengan tangan yang terentang dua kali.

“Jinja?? Jinja?” Tanya ketiganya.

“Ne….” Teriak Hyuk keras.

Tak lama paman Hyuk datang. Mereka memberi salam dan hormat pada Paman Lee.

“Baiklah.. apa kalian sudah siap?” Tanyanya tanpa babibu.

“MWO??” mereka terkejut dengan pertanyaan itu. Hyuk Cuma nyengir ga jelas.

“Aku sudah bicara dengan Hyuk sebelumnya. Kalian akan mendapatkan penginapan secara gratis selama satu minggu dengan syarat. Kalian harus bersedia bekerja dari jam delapan pagi hingga jam delapan malam.”

“APAAAAA???” Woo, Beom, Min ho. Lagi-lagi mereka terkejut. Matanya yang tadi membulat berubah mengerucut dengan tatapan tajam memandang Hyuk yang berdiri di sebelah kiri mereka. Dan Hyuk yang terkenal menyebalkan sekaligus playboy namun paling care ini hanya senyam-senyum sambil garuk-garuk kepala.

“LEE HYUKK JAE…”


***

Hari sudah malam. Hari ini mereka di beri kesempatan untuk beristirahat sebelum besok bekerja di penginapan paman Lee. Min ho duduk di teras kamarnya. Dia begitu menikmati malah yang indah dengan taburan bintang. Tangannya diangkat. Hingga jari-jari itu tak lagi merapat, dia membuat cahayanya bulan terhalang oleh tiap jarinya. Senyum indahnya bahkan mampu membuat angin malam begitu mesra menyentuh setiap lekuk tubuhnya.
Suara jangkrik saling membalas dari balik pohon. Mereka bersembunyi diantara malam yang terang oleh cahaya bulan.

“Ya… sedang apa kau di sini?” Ill woo datang dan langsung duduk di samping Min ho. Kaki mereka saling bergelayut.

“Ahh…. Kenapa malam ini sangat indah.” Lanjutnya setelah menghela napas panjang.

“Oh ya. Ini baju yang harus kita pakai untuk bekerja besok.” Ill Woo memberikan satu tumbuk baju adat korea berwarna biru. Tak lupa topi khasnya pun di letakkan di atas kain yang ter-lipat rapi.

“Apa ini?? Kita harus memakai pakaian ini? Benar-benar ci Hyuk.. aku tidak menyangka jika dia telah menjebak kita dan menjadikan kita budak di hari libur. Ckckckck…” Gerutunya tak karuan.

“Sudahlah! Jarang-jarang kan kita liburan di tempat kaya gini? Nikmati saja! bukankah pemandangan dan suasana di sini luar biasa? Ahh…. Segar sekali jauh dari hingar bingar dan kepenatan kota metropolitan. AKU SUKAAA…” Woo merentangkan tangannya dan menikmati udara malam yang sejuk, nan menakjubkan.

“Ah… aku ngantukk… aku pergi ke kamar dulu ya. Apa kau mau ikut tidur denganku?” Goda Ill woo dengan tatapan seduktif.

“Ya… kau ini jangan mulai ya!” Min ho terlihat ketakutan melihat Woo seperti itu.

“Hahahahaha…”

“We?? Weyo??”

“Aku juga tidak suka padamu. Aku masih normal dan menyukai gadis. Bakhan tubuhmu.. aku sudah tahu semua. Apalagi yang perlu aku lihat? Jakunmu? Hahahahaa” Ill Woo lagi-lagi menggoda.

“Kurang ajar kau.. dasar namja gila.” Balas Min ho.

Namun Woo langsung pergi dan beranjak menuju kamarnya.

Malam semakin larut. Ill woo, beom, dan hyuk. Mereka sudah bergulat dengan selimut juga bantal masing-masing. Sementara Min ho, dia masih menikmati malam yang panjang. Setelah lama duduk di teras. Dia bangkit dan berjalan-jalan mengitari taman penginapan bagian timur. Begitu banyak bonsai tumbuh indah di tanam dalam pot cantik dengan ukiran naga. Dia tak henti tersenyum dan menikmati kenikmatan luar biasa ini. Bahkan sempat-sempatnya Min ho duduk diantara pancuran air di pinggir kolam, puluhan ikan koi yang cantik, dengan sisik warna-warni juga sirip yang beliak-liuk. Tangannya menyentuh air itu, bahkan setengah jarinya tenggelam bersama ikan-ikan itu.

Seorang wanita terlihat mengintip di balik semak-semak. Mata bulat cokelat-nya menatap Min ho yang sedang asyik bermain air. Tubuhnya yang di balut hanbok wana merah muda dan rambut panjang di kepang ke belakang dengan hiasan di kepala membuat dia sangat cantik.
Serangga yang sedang berjalan di antara daun-daun semak itu menyentuh tangan wanita cantik itu. Sontak dia menjerit, saat serangga itu malah loncat ke bajunya. Dia berjalan mundur sambil berusaha menyingkirkan serangga itu.
Min ho tampak curiga dengan suara yang keluar dari belakangnya. Dia bangun dan berjalan menuju suara.
Wanita itu masih sibuk meng-enyahkan serangga itu. Hingga kakinya yang dibalut sepatu motif bordir bunga menginjak batang kayu. Dia pun kehilangan keseimbangan. Min ho dengan cepat meraih pinggangnya dan meraih sebelah tangannya hingga dia jatuh di pangkuan Min ho. Wanita itu benar-benar terkejut, hingga matanya semakin membulat.
Min ho sangat terkesima dengan wanita cantik itu. Tangannya sangat lembut seperti kapas bahkan busa sabun yang halus. Kulit putih susunya membuat dia jadi minder. Tak begitu lama, wanita asing itu langsung bangun, kemudian menundukkan kepalanya sebagai tanda ucapan terima kasih.
Min ho mencoba bertanya siapa gerangan nama gadis cantik itu. Tapi dengan cepat dia pergi tanpa sepatah kata pun.

***

Pagi-pagi buta Hyuk sudah bangun. Dia sangat rajin, bahkan pakaian pelayan itu sudah dipakainya dengan rapih. Dia sangat jail. Bayangkan Hyuk membawa satu baskom air dingin dan mencipratkannya ke wajah Woo, Min ho, juga Beom.
 Beom yang kebo, dan hobi tidur sangat sulit dibangunkan. Woo dan Min ho bangun dengan terpaksa karena wajah mereka basah kuyup. Sabil bergerutu ini itu, Woo juga Min ho pergi ke kamar mandi untuk segera bersiap.

“Ya Beom.. bangun!! Beom…!!! Ni anak bener-bener ya?” Hyuk geleng-geleng kepala saat air yang di cipratkan ke wajah Beom malah di jilatinya tanpa rasa jijik.

“Baik… sepertinya kau sangat haus Beom..” Mata Hyuk semakin menyipit. Bibirnya mengangkat sebelah, dan dia kembali membawa air lebih banyak. Tanpa rasa ragu pada hitungan ketiga. Air itu mengguyur Beom tanpa rasa kasihan.

Beom kaget bukan main.

“BANJIR…BANJIR… BANJIRR….” Dia kelabakan sambil mengusap wajahnya yang penuh air.

“Banjir… bannjiirrr… hehehehe.. hyuk jae..” Beom malah nyengir kuda ketika melihat Hyuk berdiri dengan wajah menyeramkan.

“MANDDIIIIIIIIIII!!!!” Hyuk berteriak.

Beom langsung angkat kaki dari tempat tidur menuju kamar mandi.

***

Penginapan hari ini sangat ramai. Banyak pengunjung yang datang untuk sekadar melepas penat barang satu atau dua malam. Dan semua orang sangat sibuk termasuk empat cowok gokil itu.
Hyuk yang jago bela diri siap mengantar pelanggan ke kamar, dengan barang bawaan yang kadang menyesakkan mata. Sementara Beom dan Min ho bertugas di bagian resepsionis. Ill woo sibuk sendiri di bagian makanan. Dia mengantarkan pesanan para pelanggan yang duduk menunggu masakan tradisional korea.
Karena hari ini pengunjung restoran penginapan lebih banyak, mau tidak mau ill woo ikut membantu menyajikan langsung makanan itu ke hadapan pemesan.
Karena tergesa-gesa, Woo tidak sengaja menyenggol makanan pelanggan yang duduk di sampingnya. Dia sangat marah pada Woo. Pria itu terus memarahi Woo meski Woo sudah berusaha minta maaf. Tak ingin berbuntut panjang Min ho yang memiliki waktu senggang langsung menghampiri Woo. Dengan penuh rasa sopan Min ho pertama-tama menanyakan duduk permasalahannya pada pria itu. Pelanggan lain terlihat risih dan tidak nyaman dengan kejadian itu. Tapi kemudian Min ho membisikkan sesuatu pada pria itu, dan akhirnya pria tadi bisa tenang.

“Baik tuan, tunggu sebentar! Kami akan segera kembali.”

Min ho menarik Woo ke dapur. Woo terlihat pucat pasi, tubuhnya bergetar.

“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Min ho sambil menepuk pundak Woo.

“Ah… ne.” Jawabnya singkat.

“Sudahlah! Tidak apa-apa, biar aku yang membereskan orang itu. Pergi dan bantu tuan Choi memasak!” 
Min ho berusaha meyakinkan Woo untuk tidak merasa khawatir.

“Tapi aku.”

“Aku tahu ini pertama kalinya kau bekerja seperti ini kan? Tenanglah! Aku sudah cukup paham dengan situasi seperti ini. Ayahku telah memberikan tips jitu menghadapi orang seperti itu. Kau kan tahu aku ini adalah pewaris toko ramyun paling terkenal di Seoul. Hahahaha.” Tungkasnya dengan nada canda.
Woo hanya tersenyum, kemudian menghela napas.

Min ho memberikan pelayanan ulang. Dia memberi makanan baru dengan beberapa hidangan lain yang di buat khusus dan di sajikan gratis.

“Silahkan dinikmati. Saya minta maaf atas ketidak nyamanan anda sebelumnya. Semoga anda menyukainya. Selamat makan!” Cukup dengan beberapa kalimat, dia pun pamit dan menuju tempat semula.
 
***

Hari yang cukup melelahkan. Woo, Beom, Min ho, juga Enhyuk kini sudah berada di kamar. Mereka di satukan dalam satu ruangan besar. Sehingga dengan leluasa bisa saling bercengkerama. Hyuk, dia mulai dengan ide gilanya lagi.

Dia mengambil sesuatu dari laci dekat lemari pakaian.

“Ya.. mau apa kau?” Bentak Beom saat Hyuk mendekat ke lemari pakain bagian Beom. Beom dia adalah orang yang paling sensitif. Tidak suka jika orang lain menyentuh barang pribadinya meskipun itu kekasihnya bahkan adiknya sekali pun.
“Ya yaya.. Beom. -.- aku tidak akan menyentuh barangmu.” Hyuk menoleh dengan ekspresi jengkel.
Beom diam, dengan alis mengangkat sebelah.

“Trarada….” Hyuk mengambil sebuah tinta kenal berwarna merah yang di simpan disebuah wadah kecil mirip cepuk untuk pelembab wajah.

“Apa yang akan kau lakukan kali ini?” Woo menatap Hyuk, dan Hyuk hanya tersenyum.

“Aku ngantuk. Kalian main sendiri saja!” ujar Min ho dan kemudian meraih selimbutnya dan pergi tidur.

“Jika kau tidak ikut kau yang kalah.” Jelas Hyuk.

“Ya! bagaimana bisa aku yang kalah? Ikut main saja engga. Sudahlah ini sudah malam, apa kalian tidak lelah? Cepat pergi tidur.” Serunya sok tua.

“Ah… benarkah begitu? Padahal aku ingin mengenalkan kalian pada gadis-gadis di sini. Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan jika di sini banyak gadis-gadis cantik.” Papar Hyuk mencoba mempengaruhi Miin ho.

“Ah.. benarkah itu Hyung?” Beom tiba-tiba semangat dan mendekat pada Hyuk.

“Ya.. bocah! Masalah cewek aja mata mu langsung ijo.” Celetuk Woo.

“Biarin wew…”

“Oh ya Hyuk.. bisakah kau memberikanya satu untukku? Mm aku…”

“Aku tidak janji jika salah satu dari kita tidak ikut.” Hyuk melirik Min ho yang masih terbaring.

Woo juga Beom langsung mengerlingkan matanya dan memandang Min ho. Tatapan mereka seolah bicara, baik satu, dua, tiga. Dan Mereka berdua menerjang Min ho. Membujuknya sampai dia mau ikut permainnan yang di rancang Hyuk.

“Ya… Hyung! Ayo ikut main! Apa kau tidak kasian padaku?” Rengek Beom manja.

“Min ho jagiya. Apakah kau tidak rindu bermain denganku? Ayo ikutlah! Aku berjanji tidak akan meledekmu lagi karena takut pada perempuan. Ehhh …” Woo keceplosan. Gayanya merayu malah berujung buruk. Min ho menarik lebih kuat selimutnya hingga membuatnya tenggelam.

Kesal terhadap kelakuan Min ho. Woo berteriak, “BAIKLAH BAIKLAH!! KARENA KAU BEGITU KITA PUTUS! Bahkan kau tidak tahu betapa kesepiannya aku sekarang. huhuhuhu.”

“Ngomong apa sih ci Woo? Ga jelas banget.” Gerutu Min ho pelan dari dalam selimutnya.

“Ah.. ya sudah jika tidak mau. Aku tidak rugi ko. Karena aku sudah bertemu dengan seorang wanita cantik tadi pagi.” Ungkap Hyuk dengan gaya yang so soan.. mengalah.

“Ah.. benarkah Hyung? Siapa? Siapa? Ko dari tadi aku ga liat ada cewek cantik di sini ya?” Tanya Beom penasaran.

“Seorang gadis cantik denga kulit putih dan mata cokelat. Dia sangat mungil dan kau tahu dia sanggaaaaaat cantikkk. Aku bertemu dengannya saat berjalan menuju papiliun. Dia memakai hanbok juga. Aku pikir dia adalah pegawai baru di sini, karena sebelumnya aku belum pernah melihat dia.”

“Ah… jinja? Jinjayeso?? Aku ingin bertemu dengannya…” Sekarang giliran Woo yang mengebu-gebu.

Min ho menguping dari balik selimutnya. Hingga dia teringat kejadian kemarin malam, saat seorang wanita jatuh di pangkuannya. Wanita yang memiliki ciri-ciri yang sama seperti yang Hyuk katakan tadi. Dia semakin penasaran lagi saat dia ingat jika wanita cantik itu tak mengatakan apapun dan hanya menundukan kepalanya kemudian pergi.

“Ah… ini ni gara-gara ci Mr. Kepo si pemilik jimat bau… ga jadi deh..” Woo terlihat sangat kecewa. Dia menarik selimutnya dan pergi tidur.

Dua menit berlalu, Hyuk masih duduk sambil memainkan cepuk tinta merah itu.

“Ayo kita main!” Min ho bangun dari tidurnya dan bicara dengan lantang. Hyuk yang melihat ekspresi Min ho membuatnya bersemangat dan memamerkan senyumnya.

Woo dan Beom juga langsung bangun, saat Min ho mensetujui untuk ikut bergabung.

“Yayayayayayayayya…. Ye..ye..yeeebooo… Kekekekenappaa tidak dari tadi hah?” Ucap Woo dengan gaya reper.

“Hentikan bodoh!” Min ho menepuk kepala Woo. Dan Woo kesakitan.

“Ah.. Hyung.. kamsa nomu kamsahamnida.” Beom memegang tangan  Min ho.

“Ya.. sudah sudah. Hyuk! Peraturan main kaya apa?”

Setelah Min ho bertanya demikaian Woo dan Beom duduk berjejer dan menyimak peraturannya dengan baik-baik.

“Oke… karena semua sudah siap untuk bermain. Jadi aku kasih tahu cara mainnya kaya apa. Pertaman kita akan menentukan siapa yang akan berjaga dan siapa yang akan bersembunyi. Selanjutnya saat si penjangga terkena tinta merah dari orang yang bersembunyi atau sebaliknya maka dia tidak akan mendapatkan kesempatan bertemu dengan wanita yang tadi aku ceritakan. Arrasso??” Jelas Hyuk panjang lebar.

“Ani…” Beom menggelengkan kepalanya.

“Intinya. Siapa saja yang terkena tinta mereah berarti dia tidak bisa bertemu wanita yang tadi aku sebutkan. Jadi kau harus berusaha membuat lawan kalian mati kutu dan mencoreng mukanya dengan tinta merah.”

“Ah… arra.. arra….”

“Oke.. sekarang kita akan pilih orang pertama yang jaga. Orang yang jaga harus memakai pakaian adat sebagai bagian dari hukuman juga ciri jika dia adalah orang yang berjaga.”

Setelah pemilihan yang sengit batu gunting kertas dilakukan. Akhirnya Min ho lah yang menjadi penjangga. Dia terlihat kecewa saat dia harus berjaga dengan pakaian adat dan mencari yang lain.

“Baiklah… silahkan kalian bersembunyi. Tapi ingat! Kau.. kau!!  kau!!  kau!!! Aku akan mencoret semua wajah kalian dengan tinta merah.” Min ho pun ikut menggebu-gebu dengan mengisyaratkan tanda silang di masing-masing wajah temannya itu.

“WAWWWW….” Hyuk, Beom, dan Woo kompak mengatakan itu, dan kemudian berlari untuk pergi bersembunyi.

***
Min ho keluar dengan pakain adat yang sering di pakai para bangsawan pria di zaman joseon. Pintu kamar itu terbuka dan dia melangkah keluar.
Huh…. Sangat gagah.. dia bahkan terlihat tampan denga baju bangsawannya. Sambil membawa kipas, dia berjalan mengitari taman dan beberapa koridor di ruangan-ruangan bagian utara.

“Kemana mereka? Secepat itukah menghilang. Ckckckkc...” Bajunya yang terlalu panjang membuat bagian bawahnya tersangkut ke kayu dekat ruangan kosong di papiliun utara.

“Ah.. ribet banget sih.. Si Hyuk emang bener-bener ya.” Min ho bergerutu sambil membenarkan pakainnya.
Dia menunduk dan meletakan kipasnya di ubin. Sebuah bayangan terlihat melewati dirinya di sana. Min ho menoleh tapi bayangan itu hilang. Saat min ho menunduk, bayangan itu muncul lagi. Curiga jika itu Woo atau Hyuk. Min ho malah berteriak, “Ya hentikan! Woo aku tahu itu kau. Hyuk? Apa itu kau?” tanyanya ragu.
Bulu kuduknya mendadak berdiri, dia merasa jika seseorang meniup pundaknya. Min ho bergidik dan kemudian membalikan tubuhnya.

“AIGOOO….” Dia terkejut saat wanita yang di temuinya kemarin malam tiba-tiba ada di hadapannya.

“Apakah kau sedang mencari sesuatu?” tanyanya lembut.

Min ho tercengang dan hanya bisa menatap penuh rasa kagum. Wanita itu melambaikan tangannya di depan mata Min ho.

“Ah… ya! aku sedang.. aku sedang mencari teman-temanku. Iya chingudel heh.” Dia terlihat canggung dan gugup.

“ah… sepertinya bajumu tersangkut?” Wanita itu menelisik pakaian Min ho yang tersangkut pada kayu pintu kamar kosong itu.

“Ah ini… ne.. tadi akuu…” setelah menunduk sebentar, wanita yang dilihatnya tadi tiba-tiba menghilang dan …

“Kemana dia? Ya?? kau dimana? Aishhh … bahkan aku belum sempat menanyakan siapa namanya. Pabo.” Min ho memukul kepalanya.

TBC

RCL please~!!! ^^
kamsa :)


FF ini juga di post di facebook ku loh!! ^^ klik di sini loh!!

Nb:: Karena ff ini tidak di update sesuai ketentuan yakni pada akhir pekan. Saya memberikan hadiah pada pembaca setia yang sudah tidak sabar untuk membaca kelanjutannya. Jadi saya berharap kalian memberikan jejak dengan memberikan komentar berupa kritik saran, atau apa pun itu selama masih berhubungan dengan ff ini. Terima kasih :)

2 komentar:

  1. halo sis Dinie...keberatan gak dipanggil begitu?

    kebetulan aku lg browsing MINSUN FF gitu dan nemu blog kamu..hahahaha...aku suka deh baca2 ceritanya,
    oh ya...aku juga add FB kamu..tp belum diconfirm T________T

    oh ya yang ini lanjutannya kapan??

    ditunggu selalu..^^

    BalasHapus
  2. annyeong.. siapa nama kamu??
    sia ga pa-pa.^^

    nama facebooknya siapa? biar nanti aku chek.
    itu ffnya udah di update.. silahkan di baca. :)

    BalasHapus