Rabu, 14 Maret 2012

Ketika Kenyataan Tak Seindah yang Dibayangkan

Ada kalanya manusia menjadi seseorang yang sangat optimis dalam hidup. Merasa mampu meraih semua dengan mudah tanpa penghalang. Tapi ketika kenyataan tak seindah yang di harapkan, seolah semua menjadi bumerang. Bagai bom waktu yang siap meledak saat waktunya habis. Hingga dia terperangkap dalam sebuah kotak hitam dengan empat dinding pembatas yang sama-sama berujung, namun tak luas malah terlihat sempit. Hingga galau melanda setiap orang yang tak mampu meraih hal yang nyata tak bisa di raihnya.

Tapi kini, mari kita sejenak untuk tidak hanya memikirkan angan yang tak tergapai. Namun juga sebuah rasa syukur yang harus tumbuh dalam hati dan jiwa. Jika semua yang terjadi sekarang adalah sebuah hal yang telah jadi sebuah pilihan. Pilihan awal yang di ambil oleh orang yang bersangkutan, hingga telah menjadi sebuah kejadian yang tak bisa terelakan. Dan tanpa sadar rasa sesal pun hinggap hingga dia risau sendirian.

Semua hal yang mendasari hidup. Bukan melulu tentang sebuah cinta (habluminanas) tapi juga cinta kita terhadap Allah SWT (habluminallah). Keduanya harus seimbang seperti timbangan yang sama berat. Sehingga semuanya akan ingsaallah terlaksana dengan baik.

Banyak orang yang berkata ridho orang tua adalah ridho Allah SWT. Maka mulailah untuk meminta restu akan setiap tingkah laku perbuatan kita pada Allah dan kedua orang tua.

Sebuah konsep yang saya dapat dari ustad kondang K.H Yusuf Mansur yaitu;

1. Allah dulu
2. Allah lagi
3. Allah terus

Maksudnya adalah sebelum melakukan, akan melakukan, dan setelah kita berikhtiar dalam hal yang ingin kita lakukan semuanya di serahkan, dan di tanyakan kepada Allah SWT. Karena hanya dengan kuasa-Nya semua hal yang menurut nalar manusia tidak mungkin semuanya akan mungkin saja terjadi saat Allah telah menghendaki.

Itulah yang saya sampaikan. Mudah-mudahan bermanfaat. Mohon maaf apabila banyak kesalahan. Kesempurnaan hanya milik Allah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar